Rabu, 20 September 2017

   Alasan 7eleven mengalami kebangkrutan

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan kondisi Sevel semakin terpuruk setelah gagal diakuisisi perusahaan bisnis besar di Indonesia bersama PT Charoen Pokphand Restu Indonesia.

’’Informasi ini sejak awal katanya Sevel akan diambil alih bisnis besar Charoen Pokphand. Namun saya enggak tahu prosesnya bagaimana, apakah hitung-hitung bisnis dan akhirnya malah tutup,” kata Syarkawi kepada JawaPos.com, Kamis (29/6).
Bersama dengan surat ini, kami bermaksud untuk menginformasikan bahwa per tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas anak Perseroan akan menghentikan kegiatan operasionalnya.

Hal ini disebakan oleh, Keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh perseroan untuk menunjang kegiatan operasional 7-eleven setelah rencana transaksi material perseroan atas penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience store di Indonesia dengan merek waralaba 7-eleven beserta asset-aset yang menyertainya oleh PT Modern Sevel Indonesia sebagai salah satu entitas satu anak dari  perseroan ke PT Charoen Pokphand Restu Indonesia, mengalami pembatalan Karena tidak tercapainya kesepatan atas pihak-pihak berkepentingan. Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul sebgaia akibat dari pemberhentian operasional gerai 7-eleven ini akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hokum yang berlaku dan akan diselesaikan secepatnya.

 Potongan surat yang disampaikan Manajemen 7-eleven ke Bursa Efek Indonesia (BEI)

(Sumber : JawaPost)


Bagaimana perilaku konsumen yang berbelanja di sector retail

Semakin kesini semakin banyak sekali toko retail modern contohnya Alfamart, Indomart, Hypermart dll. Membuat para konsumen tertarik untuk belanja di sector retil Karena sector retail lebih menampilkan visual fresh pada sesuatu yang dijualnya. Dalam hal ini konsumen dapat memilih sendiri dalam membeli suatu produk. Konsumen lebih senang belanja di retail modern daripada tradisional Karena belanja di reial modern lebih nyaman, dalam memilih barangpun lebih enak daripada belanja di sector retil tradisional.

Biasanya konsumen untuk berbelanja melihat lokasi sector retail itu apakah sector itu terjangkau untuk dilalui atau malah sebaliknya, para konsumen memilih belanja di sector retail Karena harga yang sudah tertera pada barang yang akan dibeli sudah pas dengan barang yang akan dibeli.

Perilaku konsumen terkesan tidak bias menjadi suatu kejadian yang tetap dan terus menerus dalam sector ritel ini, akan tetapi hal itu akan terus berubah akibat dari penawaran menarik yang diberikan produsen, bahkan dari minat dan keinginan dari konsumen yang bersangkutan.

Konsumen lebih senang belanja di sector retail Karena lebih menghemat waktu dan semua barang yang dinginkan sudah ada di toko tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar