Alasan
7eleven mengalami kebangkrutan
Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan kondisi Sevel semakin terpuruk setelah gagal
diakuisisi perusahaan bisnis besar di Indonesia bersama PT Charoen Pokphand
Restu Indonesia.
’’Informasi ini sejak
awal katanya Sevel akan diambil alih bisnis besar Charoen Pokphand. Namun saya
enggak tahu prosesnya bagaimana, apakah hitung-hitung bisnis dan akhirnya malah
tutup,” kata Syarkawi kepada JawaPos.com, Kamis (29/6).
Bersama dengan surat ini, kami bermaksud untuk
menginformasikan bahwa per tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di
bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas
anak Perseroan akan menghentikan kegiatan operasionalnya.
Hal ini disebakan oleh, Keterbatasan sumber daya yang
dimiliki oleh perseroan untuk menunjang kegiatan operasional 7-eleven setelah
rencana transaksi material perseroan atas penjualan dan transfer segmen bisnis
restoran dan convenience store di Indonesia dengan merek waralaba 7-eleven
beserta asset-aset yang menyertainya oleh PT Modern Sevel Indonesia sebagai
salah satu entitas satu anak dari perseroan ke PT Charoen Pokphand Restu
Indonesia, mengalami pembatalan Karena tidak tercapainya kesepatan atas
pihak-pihak berkepentingan. Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul
sebgaia akibat dari pemberhentian operasional gerai 7-eleven ini akan
ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hokum yang berlaku dan akan
diselesaikan secepatnya.
(Sumber : JawaPost)
Bagaimana perilaku konsumen yang berbelanja di sector retail
Bagaimana perilaku konsumen yang berbelanja di sector retail
Semakin kesini semakin banyak sekali toko retail
modern contohnya Alfamart, Indomart, Hypermart dll. Membuat para konsumen
tertarik untuk belanja di sector retil Karena sector retail lebih menampilkan
visual fresh pada sesuatu yang dijualnya. Dalam hal ini konsumen dapat memilih
sendiri dalam membeli suatu produk. Konsumen lebih senang belanja di retail modern
daripada tradisional Karena belanja di reial modern lebih nyaman, dalam memilih
barangpun lebih enak daripada belanja di sector retil tradisional.
Biasanya konsumen untuk berbelanja melihat lokasi sector
retail itu apakah sector itu terjangkau untuk dilalui atau malah sebaliknya,
para konsumen memilih belanja di sector retail Karena harga yang sudah tertera
pada barang yang akan dibeli sudah pas dengan barang yang akan dibeli.
Perilaku konsumen terkesan tidak bias menjadi suatu
kejadian yang tetap dan terus menerus dalam sector ritel ini, akan tetapi hal
itu akan terus berubah akibat dari penawaran menarik yang diberikan produsen,
bahkan dari minat dan keinginan dari konsumen yang bersangkutan.
Konsumen lebih senang belanja di sector retail Karena lebih
menghemat waktu dan semua barang yang dinginkan sudah ada di toko tersebut.
